Apa yang dimaksud dengan Terapi Integrasi Sensorik?

Integrasi sensorik mengacu pada proses neurologis dalam menerima, mengatur, dan merespons masukan dari sistem sensorik. Informasi ini dapat berupa pendengaran, visual, pengecapan, sentuhan, vestibular (keseimbangan dan pergerakan), proprioseptif (indra otot dan persendian). Kemampuan seseorang untuk berfungsi dalam lingkungan sehari-hari bergantung pada pemrosesan informasi sensorik yang memadai.


Apa itu SPD (Gangguan Pemrosesan Sensorik)?

Sensory Processing Disorder (SPD) terjadi ketika masukan sensorik tidak dirasakan oleh individu, tidak diinterpretasikan dengan benar, atau tidak disusun menjadi respons adaptif. Seseorang mungkin bersikap defensif atau takut terhadap masukan sensorik tertentu, relatif tidak responsif terhadap masukan sensorik tertentu, memiliki masalah postur atau koordinasi yang cukup serius, mencari masukan sensorik dalam jumlah yang tidak biasa, atau kesulitan membedakan antara perbedaan halus dari berbagai stimulus sensorik. Penting untuk dicatat bahwa banyak dari kita memiliki preferensi sensorik atau kesulitan dalam memproses informasi sensorik.


Berikut adalah beberapa ciri-ciri umum bahwa seorang anak mungkin mengalami masalah integrasi sensorik adalah:

  1. Kesulitan mendapatkan dan mempertahankan perhatian (misalnya mudah teralihkan)
  2. Tingkat aktivitas yang sangat tinggi atau rendah (misalnya tidak bisa tenang atau tidak bisa bersemangat)
  3. Memiliki perilaku impulsif (misalnya pengambil risiko)
  4. Mungkin merasa kikuk, janggal, atau rawan mengalami celaka (misalnya masalah dengan tonus otot atau koordinasi)
  5. Kesulitan dalam beradaptasi (misalnya penolakan terhadap situasi baru)
  6. Tidak kooperatif dengan perubahan kecil apa pun pada rutinitas
  7. Kesulitan di sekolah (misalnya menghadiri, sosial)
  8. Kesulitan menjalin pertemanan (misalnya kesulitan sosial)


Apa yang dimaksud dengan Terapi Sensori Terpadu?

Terapi integrasi sensorik ditujukan untuk mengatasi gangguan pemrosesan sensorik (Sensory Processing Disorder). Terapi Integrasi Sensorik memungkinkan individu untuk memberikan respons otomatis dan tepat pada pengalaman lingkungan sehingga dapat meningkatkan keberfungsian dalam kehidupan sehari-hari. Pemrosesan sensorik terjadi pada diri individu dan mengacu pada cara sistem saraf pusat menerima pesan sensorik dari eksternal (lingkungan) dan internal (dari dalam tubuh), memproses pesan tersebut, dan mengubahnya menjadi respons motorik atau perilaku yang “adaptif”. Kemampuan adaptif adalah kemampuan individu untuk merespon secara tepat (adaptif) terhadap perubahan yang terjadi di dalam tubuh atau di lingkungan sekitar. Misalnya, ketika anda merasa lapar dan merespons secara “adaptif” dengan mencari sesuatu untuk dimakan. Atau, ketika anda merasa sakit di perut, anda merespons secara "adaptif" dengan mencari toilet. Keberhasilan menyelesaikan tugas sehari-hari dan respons emosional yang terkendali bergantung pada kemampuan individu memproses informasi sensorik yang masuk secara efisien.


Therapeutic Educator (TE) di RTH-TML akan membimbing anak dengan autisme melalui berbagai aktivitas untuk membantu melatih tubuhnya memproses informasi sensorik dengan benar dengan menyajikannya dengan berbagai jenis informasi sensorik yang diperlukan oleh sistem mereka agar berfungsi dengan sukses. Dengan memberikan informasi sensorik yang tepat, individu dengan autisme mampu mengembangkan perilaku adaptif yang mengarah pada peningkatan fungsi dan kemandirian.


Hal yang membedakan RTH-TML dari lembaga terapi autisme lainnya adalah pengaplikasian stimulus dari alam bebas sebagai komponen utama dalam pelaksanaan Terapi Sensori. Hal ini mengindikasikan bahwa di RTH-TML terapi sensori diberikan dalam dua moda; dalam ruangan (sensory room) dan luar ruangan (di alam bebas). Sejatinya alam telah menyajikan berbagai stimulasi yang dapat melatih individu untuk mengembangkan kemampuan adaptifnya. Memanjat pohon dapat melatih keterampilan vestibular dan/atau proprioseptif yang memungkinkan anak mengalami sensasi gerakan tertentu. Berjalan di pematang sawah yang licin dapat meningkatkan keseimbangan dan kekuatan inti tubuh. Jalan yang menanjak dan menurun di perbukitan, dapat meningkatkan perencanaan motorik, perhatian terhadap tugas, pengurutan, dan penyelesaian tugas harian.